Participatory Rural Appraisal

alvinsadikin@gmail.com

Dari Kajian Cepat Menuju Kajian Partisipatif

(PRA) adalah pendekatan partisipatif untuk memahami kondisi, potensi, dan masalah perdesaan dengan menempatkan masyarakat sebagai aktor utama. PRA bukan sekadar teknik pengumpulan , melainkan proses pembelajaran bersama yang:

  • Memberdayakan masyarakat untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan merefleksikan realitas sosial, ekonomi, dan lingkungan.
  • Menempatkan masyarakat lokal sebagai sumber yang valid dan dapat dipercaya.
  • Mengalihkan peran pihak luar dari sebatas pengumpul data menjadi pendamping dalam proses pembelajaran bersama.

PRA menjadi kerangka penting pembangunan perdesaan yang menekankan keterlibatan masyarakat, pemahaman kontekstual, dan landasan yang melibatkan semua pihak dalam perumusan kebijakan.

Secara historis, PRA berakar dari konsep (RRA) yang diperkenalkan oleh melalui artikel yang berjudul Rapid Rural Appraisal: Rationale and Repertoire dalam jurnal and Development pada tahun . Artikel tersebut berangkat dari hasil Workshop on Rapid Rural Appraisal (26-27 October ) dan Conference on Rapid Rural Appraisal (4-7 December 1979) keduanya diselenggarakan di Institute of Development Studies, .

Dalam tulisannya, Chambers mengkritik kuantitatif berskala besar yang lamban, mahal, dan sering gagal menangkap realitas sosial pedesaan. Ia kemudian mengusulkan RRA sebagai pendekatan yang lebih cepat, fleksibel, dan berbasis pembelajaran langsung melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, serta diskusi dengan masyarakat lokal.

Meskipun RRA menawarkan cara yang lebih cepat dan praktis dibandingkan survei konvensional, metode ini memiliki keterbatasan dalam memahami dinamika sosial serta perbedaan peran di masyarakat lokal. Karena pelaksanaannya singkat dan dipimpin oleh pihak luar, interaksi dengan warga sering kali hanya bersifat permukaan dan berfokus pada informasi yang dianggap penting oleh peneliti. Akibatnya, susunan sosial, beragam kepentingan, dan tingkat pengaruh antarwarga kerap terabaikan.

Sebagai respons atas keterbatasan RRA, para praktisi dan akademisi mulai meninjau kembali peran peneliti, perencana, dan masyarakat lokal. Fokus bergeser dari sekadar pengumpulan data menuju proses pembelajaran dan pemberdayaan. Masyarakat tidak lagi diposisikan sebagai pemberi informasi pasif, melainkan sebagai aktor aktif dalam mengidentifikasi masalah, menganalisis penyebab, dan merumuskan solusi. Sementara itu, pihak luar berperan sebagai fasilitator yang mendukung proses belajar bersama. Dinamika ini kemudian melahirkan Participatory Rural Appraisal, sebuah pendekatan yang menekankan partisipasi, refleksi kritis, dan pembelajaran kolektif dalam memahami serta merespons permasalahan perdesaan.

Konsep Participatory Rural Appraisal

Participatory Rural Appraisal (PRA) secara luas dipahami sebagai pendekatan partisipatif yang menempatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama dalam proses pengumpulan, , dan pemaknaan informasi mengenai kondisi serta permasalahan yang mereka hadapi. Robert Chambers dalam artikelnya Participatory Rural Appraisal (PRA): Analysis of Experience (, ) mendefinisikan PRA sebagai seperangkat metode yang memungkinkan masyarakat perdesaan untuk berbagi, meningkatkan, dan menganalisis pengetahuan mereka sendiri tentang kehidupan dan kondisi mereka, serta merencanakan dan bertindak berdasarkan analisis tersebut. Definisi ini menekankan pergeseran peran pihak luar dari pengendali proses menjadi fasilitator pembelajaran bersama.

Sejalan dengan pandangan Chambers, Ian Pretty dalam bukunya “Participatory for Sustainable Agriculture” (World Development, ) menempatkan PRA sebagai bagian dari spektrum pendekatan partisipatif yang bertujuan memperkuat keterlibatan masyarakat dalam pembangunan. Pretty menekankan bahwa partisipasi tidak semata sebagai pemberian informasi, melainkan sebagai proses sosial yang menekankan dialog, refleksi, dan negosiasi antaraktor di tingkat lokal, sehingga kualitas keputusan meningkat sekaligus memberdayakan masyarakat.

Sementara itu, Andrea Cornwall dan Rachel Jewkes dalam artikel “What is Participatory Research?” ( & Medicine, 1995) melihat PRA sebagai pendekatan penelitian dan yang berupaya mendemokratisasi proses produksi pengetahuan. Mereka menyoroti bahwa PRA membuka ruang bagi kelompok masyarakat yang terpinggirkan untuk terlibat aktif dalam mendefinisikan masalah dan menentukan agenda perubahan. Definisi ini menekankan dimensi kekuasaan dalam proses appraisal, di mana PRA berfungsi untuk mengurangi dominasi perspektif eksternal dan memperluas ruang partisipasi.

Secara keseluruhan, literatur kunci tersebut menunjukkan bahwa PRA bukan hanya instrumen teknis untuk memperoleh data, melainkan kerangka kerja partisipatif yang bersifat kontekstual, reflektif, dan berorientasi pada proses.

  • to be continued…

5 Mei 27 Mei 28 April 2019 2021 2022 2023 2024 2025 April 2023 Dokumen Dokumen Kinerja Dokumen Perencanaan Februari 2025 Information Systems Inspektorat Daerah Jabatan Fungsional Perencana Kecamatan Kementerian Dalam Negeri Kinerja Laporan Hasil Evaluasi Laporan Hasil Evaluasi AKIP Laporan Hasil Evaluasi AKIP Tahun 2022 Laporan Hasil Evaluasi AKIP Tahun 2023 Laporan Hasil Evaluasi AKIP Tahun 2024 Maret 2024 Maret 2025 Mei 2024 Mei 2025 Music Music Album Musrenbang Musrenbang Kecamatan Musrenbang RKPD Peraturan Bupati Pirate Rencana Kerja Pemerintah Daerah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah RKPD Tahun 2025 RKPD Tahun 2026 RPJMD Tahun 2025-2029 SAKIP SAKIP Tahun 2024 Sekretariat Daerah Surat Edaran

“They’re not gonna catch us. We’re on a mission from God.”

Elwood Blues, The Blues Brothers (1980)

“No one ever wins a fight”

– Elwood Dalton, Road House (2024)

“¿Quiere usted bailar conmigo?”

– Fairuz Hussein – Nights in Barcelona (1989)

“Sate, 200 tusuk makan di sini.”

– Sundel Bolong, Sundel Bolong (1981)

“There’s no place like home.”

– Dorothy Gale, The Wizard of Oz (1939)

“Say ‘hello’ to my little friend!”

– Toni Montana, Scarface (1983)

“I love the smell of napalm in the morning.”

– Lieutenant Colonel Bill Kilgore, Apocalypse Now (1979)

“I’m gonna make him an offer he can’t refuse.”

– Vito Corleone, The Godfather (1972)

“You talkin’ to me?”

– Travis Bickle, Taxi Driver (1976)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini